Seorang penonton anime asal Jepang memicu perdebatan setelah mengaku sudah benar-benar muak dengan "excess yuri" yang menurutnya semakin sering muncul dalam anime saat ini.
Ia merasa tidak nyaman melihat semakin banyak anime yang memasukkan ketegangan romantis antara karakter perempuan secara terus-menerus, bahkan ketika karya tersebut sebenarnya tidak secara resmi masuk genre yuri.
Excess Yuri Mulai Dipermasalahkan
Menurut penonton tersebut, sejumlah karya kini terlalu sering menghadirkan adegan atau interaksi sugestif antarkarakter perempuan. Baginya, elemen seperti ini terasa dipaksakan ke dalam cerita.
Ia menilai industri anime sengaja menambahkan momen-momen tersebut untuk memenuhi selera sebagian penonton otaku yang menikmati fanservice dan hubungan antarkarakter perempuan.
Ia Membandingkannya dengan 'K-On!'
Dalam komentarnya, ia kemudian membawa 'K-On!' sebagai contoh anime yang menurutnya berhasil menggambarkan persahabatan antarperempuan secara natural tanpa harus mengarahkannya menjadi romance.
Baginya, hubungan antarkarakter dalam 'K-On!' tetap terasa kuat karena cerita membiarkan persahabatan mereka berkembang secara alami tanpa terus memberikan sugesti romantis.
Ia bahkan berpendapat bahwa pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan 'K-On!' mampu mendapatkan popularitas luas hingga dikenal oleh penonton di berbagai negara.
Perdebatan Soal Yuri Makin Ramai
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan perdebatan mengenai bagaimana anime modern menggambarkan hubungan antarkarakter perempuan dan sejauh mana fanservice perlu dimasukkan ke dalam cerita.
Di satu sisi, sebagian penonton memang menikmati chemistry dan kedekatan antarkarakter perempuan. Namun bagi pihak yang setuju dengan kritik tersebut, hubungan persahabatan seharusnya tidak selalu diberi muatan romantis.
Pada akhirnya, kritik ini kembali memunculkan pertanyaan tentang batas antara female friendship, fanservice, dan representasi yuri dalam anime modern.
Kesimpulan
Seorang penonton Jepang mengkritik "excess yuri" dalam anime modern yang dianggap terlalu memaksakan ketegangan romantis di antara karakter perempuan.
Ia menjadikan 'K-On!' sebagai contoh bahwa female friendship tetap bisa menarik tanpa harus selalu diarahkan menuju romance.